Twitter

Cerita Dewasa Gay : Nikmatnya Di Entot Ayah Sendiri

Author Jamz Bouvier - -
Home » » Cerita Dewasa Gay : Nikmatnya Di Entot Ayah Sendiri

“Yah, ini rokoknya”. Aku langsung berlari ke dalam kamar, melemparkan plastik berisi bungkusan barang-barang yang baru aku beli ke atas kasurku dan segera masuk ke dalam toilet yang ada di dalam kamarku. Aku sudah tak tahan menahan kencing sejak di warung tadi. Ya, aku tadi membeli obat nyamuk semprot untuk di rumahku, dan Ayahku pun sekalian minta dibelikan rokok tadi. Sebelum ke warung aku sempat mampir sejenak ke laYah DVD di perempatan jalan tak jauh dari rumah. Beberapa keping DVD straight aku beli untuk aku tonton malam ini.


Ketika aku sedang kencing, aku mendengar pintu kamarku terbuka. Ah, paling Ayah kupikir, ia akan mengambil rokoknya. Tapi… Oh tidak! Di bungkusan itu ada kepingan DVD ! Ahh deg-degan rasanya aku hendak keluar kamar mandi, aku takut Ayah marah. Aku diam sejenak. Aku tidak mendengar suara apa-apa dari dalam kamarku. Mungkinkah Ayah sudah keluar?


Aku, Satria, adalah seorang pria berusia 17 tahun. Aku kini duduk di kelas 3 SMA. Badanku biasa saja, tidak terlalu berotot. Kulitku sawo matang. Aku asli Jawa Tengah, tapi aku sekarang tinggal di Jakarta. Ya, Ayahku yang seorang tentara dipindah tugaskan ke satuan di Jakarta. Ayahku seorang yang tegas. Ia boleh dibilang galak dan sangat keras. Tapi semua berubah sejak ulang tahunku yang ke-17 dua bulan lalu. Ayah bilang, aku sudah dewasa, sudah harus bisa menentukan nasib sendiri. Sudah harus tahu mana yang baik dan mana yang salah. Ayah hanya bisa menasehati saja. Usia Ayah 42 tahun. Secara fisik, Ayahku seperti kebanyakan tentara yang lainnya, tubuhnya gempal, berotot, kulitnya sawo matang, memiliki kumis tebal, dan tatapannya tajam. Teman-temanku bilang tampang Ayah menyeramkan. Tapi beberapa teman perempuanku malah menyukainya. Mereka bilang sangat macho! Hahahaha…


Sejak dua hari lalu, Ibuku pulang kampung ke Solo bersama adikku satu-satunya yang masih duduk di bangku SMP, Intan. Bulik-ku akan menikah empat hari lagi dan sebagai kakak, Ibu merasa wajib untuk membantu persiapannya. Saat ini bertepatan dengan liburan semester, sehingga adikku pun bisa ikut. Tinggallah aku dan Ayah di rumah berdua. Untuk bersih-bersih rumah aku kerjakan bersama Ayah. Sedangkan untuk urusan perut, Ayah sangat jago masak. Cukup banyak ilmu yang ia dapatkan selama pendidikan militernya dulu, termasuk masak-memasak. Aku sendiri tidak ikut ke Solo karena sedang sibuk mempersiapkan ujian akhir nasional. Jadi nanti saja lah, aku dan Ayah datang pada H-1.


Oke, kembali ke cerita awal. Oya, sebelumnya aku beritahukan bahwa aku bukanlah gay, aku mempunyai pacar wanita yang sangat kusayang. Ayah Ibuku pun tahu dan mengenal baik pacarku itu. Dan selama berpacaran aku tidak pernah melakukan hal-hal yang lebih dari sekedar berpegangan tangan.


Ah, sepertinya Ayah sudah keluar dan mengambil rokoknya. Aku beranikan diri keluar kamar mandi. Oh tidak, aku pun tersentak. Ayah rupanya sedang memutar DVD yang baru kubeli di TV di kamarku. TamYah Ayah masih mengenakan seragam tentaranya. Namun kancing bajunya sudah terbuka, gerah mungkin.


“Yah…” aku tidak bisa melanjutkan kata-kata.


“Mas, kamu untuk apa toh beli DVD kayak gini?” tanya Ayah pelan.


“Mmmm… Nggak,yah, aku cuma… Cuma penasaran aja.” Jawabku bingung.


“Ya, wajar sih, anak seusiamu tertarik pada hal-hal seperti ini. Tapi ingat, sebagai orangtua, Ayah hanya titip pesan saja, kamu jangan berbuat hal yang tidak-tidak ya. Misalkan kamu melakukan adegan-adegan seperti di film ini dengan pacar kamu. Nanti saja kalau sudah menikah. Kalau sampai hamil, bahaya!” nasehat Ayah.


“Nah, kamu selama ini kalau lagi pengen ngapain toh?” lanjut Ayah.


“Aku… aku…” aku tak bisa berkata apa-apa.


“Sudahlah Mas, Ayah ini kan Ayahmu. Dari dulu kan kita sudah saling terbuka. Lagipula kan kita sama-sama lelaki toh? Gak usah sungkan. Kamu bisa bebas cerita apa saja. Ayo cerita”, Ayah melanjutkan.


“Gak ngapa-ngapain sihyah. Paling aku Cuma ngocok aja”, jawabku malu.


“Hahahaha, kamu kok malu? Itu wajar, Ayah juga dulu waktu masih muda sering kok ngocok gitu. Tapi ingat, jangan keseringan ya! Nggak bagus, hehe… Eh ngomong-ngomong filmnya bagus ini. Ayah ikut nonton ya, sudah kadung diputer, jadi Ayah nonton disini saja lah” tegas Ayah.


“Iyayah, aku keluar dulu ya” jawabku.


“Lho, kamu mau kemana? Nonton sini saja, gabung” minta Ayah.


Aku pun duduk di ujung kasur, sementara Ayah tiduran di kasurku. TamYah adegan di TV, dua orang pria sedang mengerjai seorang wanita. Satu pria itu terlihat sudah tua, dan satu pria lainnya terlihat masih muda. Film yang diputar ini adalah film Asia. Pria yang lebih tua sedang duduk terlentang sambil penisnya dikulum oleh si wanita itu. Sementara pria yang lebih muda sedang memasukkan penisnya ke dalam vagina si wanita dengan gaya doggy style.


“Ini sepertinya Ayah dan anaknya, ya mas. Mukanya mirip, hahahaha….” Kata Ayah.


Aku sudah tidak setakut di awal tadi, aku sudah mulai relax dan ikut tidur di samping Ayah dengan bantal yang cukup tinggi. Tak lama kemudian aku kaget sekali. Ayah membuka ritsleting celananya, dan ia sedikit menurunkan celananya.


“Ayah mau ngocok mas, sudah dua hari ibu pergi nih”


Ayah cuek saja langsung mengocok penisnya. Aku ternganga, penis Ayah begitu besar, keras, panjang, dan urat-uratnya membuat terlihat lebih macho. Bulu-bulunya keriting namun tidak begitu panjang, sangat rapi. Baru kali ini aku melihat penis orang dewasa, dan itu adalah penis Ayahku sendiri. Perasaanku tak karuan. Deg-degan tidak jelas. Aku bingung dan sangat bingung. Entah kenapa aku justru penasaran ingin melihat penis Ayah lebih dekat namun aku tidak berani.


“Mas, kok bengong? Kamu kalau mau ngocok juga, cuek aja. Kita lelaki. Wajar kok kalau terangsang lihat film beginian, hehehe” lanjut Ayah.


Dan entah keberanian dari mana, aku pun membuka celanaku hingga terlepas semuanya. Ahhh, sensasinya begitu nikmat sekali. Jantungku berdebar keras. Aku memperlihatkan penisku di depan Ayah, dan akupun melihat penis Ayah! Kulihat muka Ayah serius sekali melihat adegan-adegan panas di TV. Mukanya terlihat sangat menikmati. Tak lama ia melepaskan baju seragam tentaranya, ia hanya mengenakan kaos dalam saja. Bulu-bulu di dadanya mencuat keluar. Aku tak tahu mengapa, aku tiba-tiba jadi suka dengan wangi badan Ayah. Ayah pun menurunkan celananya hingga terlepas semua. “Biar adil” Ayah bilang.


Aku pun mulai mengocok penisku. Dan entah keberanian dari mana lagi, aku pun membuka bajuku. Ahhh, sensasinya benar-benar tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ayah yang kukenal galak ini, ada di sampingku, sedangkan aku bugil tanpa sehelai benang pun. Aku mulai mengocok penisku. Tak lama Ayah pun membuka kaos singletnya. Astaga, kenapa dengan pikiranku? Ayah terlihat sangat sexy sekali ketika telanjang bulat. Pentil susunya mengeras. Dadanya berbulu rapih, dan sangat wangi sekali. Wangi maskulin, aku tiba-tiba suka!


“Ayo mas, kocok mas, kita keluarin mas” tak kusangka Ayah berkata seperti itu.


“Di akmil dulu Ayah dan rekan-rekan Ayah biasa ngocok bersama, mas. Jadi cuek saja” lanjut Ayah.


Aku makin terangsang melihat gaya Ayah mengocok penisnya. Tangan kirinya sibuk mengusap-usap dadanya.


“Mas, pentil susu kita ini juga sumber kenikmatan. Coba deh kamu raba-raba” jelas Ayah.


“Iyayah, geli” tukasku


Tanpa berkata apa-apa, tangan Ayah menggerayangi dadaku, mencubit-cubit putingku.


“Ahhhh,yah, geliii…” lirihku


“Enak kan mas? Nanti gantian kamu mainin putting Ayah juga ya” tegas Ayah.


Aku tak menjawabnya, langsung saja aku meraba-raba dada Ayah. Ohh, dadanya yang berbulu dan berotot membuatku tertarik untuk merabanya lebih jauh lagi. Aku ingin memiliki dada sepertinya.


“Ahhh mas, ini enak mas. Ayo mas, maenin putting Ayah.” Entah kenapa aku terangsang mendengar kata-kata Ayah.


Ayah menurunkan lengannya dari dadaku ke penisku. Aku kaget, tapi ini enak sekali! Baru kali ini penisku dipegang orang lain. Penisku dikocok-kocoknya. Aku dan Ayah sudah tidak memperhatikan DVD lagi.


“Kontol kamu gede banget mas. Sama kayak Ayah”


Tanpa dikomandoi aku pun memegang penis Ayah, dan baru kali ini pula aku memegang penis orang lain. Ya, penis Ayah begitu hangat dan menggemaskan.


“Dari kontol Ayah ini lah asal kamu, mas.” Kata Ayah.


“Mas, duduk yuk” ajak Ayah.


Ayah lalu duduk di sandaran kasurku. Ia lalu asyik mengocok penisnya sendiri. Aku agak kesal juga karena aku masih ingin penisku dikocok oleh Ayah. Ya sudah lah, aku kocok sendiri saja. Ketika aku hendak mengocok penisku, Ayah tiba-tiba menepis tanganku.


“Enak gak mas kalau Ayah kulum gini” Ayah langsung melahap penisku. Ahhhhhh ini sungguh nikmat sekali. Aku tak percaya ini! Sedotannya kuat dan kumis Ayah membuatku makin geli. Ayah menjilati kelaminku mulai dari pangkal hingga ke ujungnya. Ahhh, precumku keluar semakin banyak.


“Yah, enak” singkatku.


“Iya mas, asal kamu tahu ini bentuk hukuman dari senior ketika Ayah masih duduk di akmil dulu. Ayah diminta menjilati kontol-kontol senior Ayah sampai keluar” jawab Ayah.


Aku kaget sekali mendengarkan cerita Ayah. Ah, sudahlah, aku sedang menikmati ini.


Aku pun penasaran dengan penis Ayah.


“Yah, udah, nanti keluar. Aku boleh gantian ya?” pintaku.


“Iya mas, nih kontol Ayah, kamu isep ya, kamu sedot-sedot, kamu jilat, nikmati kontol Ayah, Mas. Dari sini kamu berasal” jawab Ayah.


Aku pun mencoba memasukkan mulutku ke penis Ayah. Baunya aku tak suka. Tapi aku penasaran. Bentuknya yang seksi, dan aku sadar dari penis Ayah inilah aku berasal. Aku tak ragu lagi, segera ku masukkan mulutku ke penis Ayah. Mmmmh, ternyata rasanya nikmat. Aku jilat-jilat penis Ayah. Aku jilati juga dua buah bola dibawahnya.


“Mmmphh… mas, enak mas, ayo mas, sedot lagi mas” Ayahku meracau.


Entah kenapa aku ingin merasakan tubuh Ayah seutuhnya. Aku merasa aman dan nyaman berada di samping Ayah. Ayah masih duduk bersandar. Akupun tiduran di paha Ayah sambil menghisap-hisap kontol Ayah. Aku melihat muka Ayah kenikmatan. Ayah mengusap-usap kepalaku dengan penuh kasih sayang.


“Enak mas? Kamu keasyikan kayaknya, hehe”


“Iyayah, kontol Ayah enak”


Ayah lalu memukul-mukulkan penisnya ke mukaku. Ahh, ini seksi sekali! Aku pun menghisap penis Ayah lagi. Ayah lalu mengusap-ngusap dadaku, dan mencubit-cubit putingku.


“Mas, Ayah mau tiduran, coba bangun dulu” pinta Ayah.


Aku pun membiarkan Ayah tidur terlentang, dan tanpa diminta Ayah, aku masuk ke dalam pelukannya. Ayah mengusap-usap kepalaku.


“Mas, ingat, ini cuma iseng saja ya. Kamu jangan sampai di luar sana jadi kepingin melakukan hal ini dengan orang lain. Kalau kamu lagi mau, bilang Ayah saja, nanti kita ngocok bareng lagi ya”


“Iyayah” aku pun semakin erat memeluk Ayah. Ketiaknya yang dipenuhi bulu lebat kucium-cium, lalu aku berlanjut ke dadanya, putingnya kuhisap-hisap. Ah enak sekali.


“Mmmph, mas, aahhh, mas, owh…” Ayah meracau kembali.


Ayah lalu mengangkat kepalaku ke hadapan mukanya.


“Mas, Ayah sayang kamu” lalu Ayah mencium bibirku dengan halus. Sungguh aku merasakan kasih sayang Ayah.


“Ayo mas, kita keluarin” kata Ayah.


Ayah lalu telungkup di atas badanku. Penisku dan penisnya disandingkan dan ia pun mulai menggesek-gesekkan tubuh kami berdua.


Aku melihat Ayah di atasku begitu perkasa. Aku pun mengusap-usap dadanya sementara Ayah menggesek-gesekkan badannya di atas badanku. Penis kami saling beradu, dan semakin mengeras.


“owhyah, owwh, mmmphh.. yaah” kini giliran aku yang meracau. Ini sungguh nikmat!


“Mas, Ayah mau keluar, kamu udah mau keluar blm? Kita keluarin bareng yah”


“Iyayah, aku juga mau muncrat ini”


“owhhh mmmhh… mas, Ayah ke… ke… luar… ahhhhhh”


Sperma kami bermuncratan di dadaku, bahkan hingga ke mukaku. Ayah mengelap sperma di mukaku dengan kaos singletnya. Ayah lalu iseng mengambil sedikit sperma kami dengan telunjuknya, dan memasukkannya ke dalam mulutku. Rasanya aneh, tapi ini enak, lalu Ayah mencium bibirku dengan manis.


“Ayah sayang mas, dan Ayah ingin mas jadi lebih dewasa yah!”


Ayah lalu membersihkan dadaku dari tumpahan sperma kami. Setelah itu kami tidur berpelukan tanpa benang sehelai pun hingga pagi.


Sejak itu, aku sering mengocok bersama dengan Ayah. Kami mempunyai kode. Kalau aku ingin, aku bilang “PCB” ke Ayah, artinya “Pengen Coli Bareng”. Sejak saat itu aku makin sayang kepada Ayah, dan tak ingin sedikitpun mengecewakannya. Ayah bilang, daripada aku bermain dengan wanita dan bisa bikin hamil, atau dengan orang lain bisa bikin tertular penyakit, lebih baik dengan Ayah saja. Aku sendiri bingung, aku masih menyukai wanita, tapi aku menikmati hubunganku dengan Ayah. AYahah aku gay atau bukan? Ah, aku tak peduli. Yang jelas, aku tidak tertarik dengan pria lain selain Ayah.